Cari Blog Ini

Selasa, 23 Februari 2010

Amor Fati

Semilir gersang raga tuah bersaji.
Menjulang langit bertampuk sunyi riuh iblis.
Jualah apa dia berkata tak mudah bimbang terus bertaji. Bukan itu maksud tanah menghembus hawa Amor menari dalam lumpuh layu..

Agung wahana Mu ku injak tanpa binasa tujuh langit pun mengerang ampun sejadi bumi tanpa air.

Sungkan diam kata pun meledak hujam dasar iman penyamun malam.
Tetes darah tak ayal artimu hilang berulang langkah yang kau lewati.
Putih mulai terbahak terbelalak telaah miskin kita.
Meski hujan bukan air. Meski matahari penuh debu. Meski hati sekeras api.

Hitam berdebu wajah riang Sang Pengatur. Bak catur kalah ia lari menang pun menangis.
Demi..
Demi apa?
Demi apa pun isi angan..

Apa?
Tahu apa kamu?

Bodoh kalian semua..
Aku bukan kalian. Aku ini sendiri.
Persetan apa maumu.

Wahai langit sempurnamu tak ia berikan bukan lain Dia akhirnya.
Manusiamu tak cukup goyah gundahkan tatap ujung nadi kucur nyawa hidup raga ini!
Hina lah hanya kau tempati nama atas batu bumi.

Amor Fati.
Raga jiwa anugrah Mu. Di jalan Mu terlalu berliku mengukir hati laksana hujan permata hingga mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar