Dalam hidup sering kita jumpai berbagai masalah yang timbul. Entah itu masalah sosial,ekonomi, agama, atau pun kejiwaan yang ke semuanya berdampak pada sinergitas kehidupan. Terlebih kita sebagai manusia yang notabene adalah mahluk sosial.
Nah dalam usia remaja yang sering kali identik dengan masa-masa di mana seorang anak mencari dan mengembangkan jati diri. Sulit rasanya apabila di masa seperti itu seorang remaja mendapat suatu masalah atau mereka sering sebut I=Trouble.
Kebanyakan orang terutama remaja mencari jati diri mereka melalui suatu hubungan pertemanan atau suatu persahabatan. Dan tentunya lebih cenderung mencari teman sebayanya untuk berinteraksi sosial secara lebih intim. Itulah mengapa sahabat atau kebanyakan teman dalam usia itu biasanya se-umuran. Kenapa? Sebab dalam fase ini seorang remaja mengalami masa transisi dari anak-anak menuju kedewasaan sosial.
Pada fase ini seorang remaja akan lebih mengkritisi informasi yang ia dapatkan. Suatu bentuk intervensi terhadap diri sendiri. Artinya, intervensi dari orang tua mulai ditolak. Di masa ini orang tua di anggap sudah tidak lagi memahami apa dan bagaimana arah pemikiran mereka,sementara mereka mulai mengerti akan tantangan dalam kehidupan. Maka,mereka akan mencari orang yang bisa memahami mereka yaitu teman sebaya.
Teman sebaya atau seumuran akan lebih mengerti masalah-masalah yang di hadapi,meskipun kadang tak tahu dan cenderung sulit mencari solusi. Itupun tidak menutup kemungkinan mereka sendirilah yang akan mencarinya. Misalnya,dalam hal menghadapi masa puber yang pertama. seorang remaja akan lebih banyak berbagi, meminta saran,pendapat, atau bahkan nasihat dari sesama teman yang se-umuran. Tentunya yang sudah saling akrab atau bisa di bkatakan sebagai sahabat. Ini menandakan dalam hubungan sosial di masa remaja akan lebih terdorong untuk mengasah perasaan agar lebih cerdas,baik secara sosial maupun kontrol emosi.
Hal ini sangat penting sebagai pambelajaran awal dimana seorang anak akan mengalami masa-masa sulit untuk mencapai kedewasaan. Tapi masalahnya,pada zaman sekarang ini makin banyak saja rang menyendiri tanpa sahabat. hal ini mungkin di sebabkan makin kecilnya intensitas para remaja dalam berinteraksi sosial. "Permainan remaja di dunia modern ini lebih banyak individual" tidak seperti dulu yang lebih memilih kebersamaan dalam berhubungan. Sangat berbahaya tentunya bagi awal kedewasaan seorang remaja.
Oleh karena itu, baik sebagai orang tua maupun guru akan lebih memahami emosi remaja. Apabila..mereka mengetahui apa arti seorang teman dalam menghadapi masalah. Nah inilah acuan bagi orang tua agar lebih berperan dan menjadi pendorong agar anak mempunyai sahabat.
Kemudian orang tua lah yang berperan aktif dalam mengamati perkembangan anak dengan sahabatnya itu. Jadi..orang tua bukanlah penguasa di rumah,tapi selalu memiliki hak dan bahkan wajib menentukan arah yang baik dalam pergaulan. Sahabat dengat anak? kenapa tidak..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar